Begitulah Cara Ia Mencintaiku

“Nang.. kok mendadak pulangnya..?”

“Iya maaf Yah mendadak.. rencananya juga gak mau kasih tahu.. biar ga usah dijemput.”

“Lanang sms ya nyampenya jam berapa!”

“Iya Yah..” jawabku, terpaksa mengiyakan.

 

2014

Perjalanan malam dengan bus antar kota memang sering menjadi pilihanku ketika aku kehabisan tiket kereta api dari Jakarta. Kali itu sebenarnya aku tidak ingin ayahku tahu aku naik bus malam pulang ke Cirebon agar tidak membuat khawatir ayah apalagi sampai dijemput. Sorenya aku hanya memberi kabar ke kakak dan sudah berpesan ke kakak untuk tidak usah bilang ke Ayah. Wallahu’alam apa yang terjadi akhirnya ayah tahu rencanaku.

Sampailah aku di kampung halamanku. Ketika turun, dingin malam kota Cirebon seketika memeluk sampai menusuk tulangku, berbarengan dengan rintik-rintik air yang berjatuhan dari langit. Di hadapanku sudah ada sesosok Ayah yang sudah menunggu di tempat busku berhenti itu.  Aku menyalaminya, mencium tangannya, lalu kita bersiap pulang menuju rumahku yang berada di pesisir pantai Kabupaten Cirebon.

“Ayo Nang, kita naik angkot aja”, ayah mengajakku naik ke angkot yang sudah disewanya. Aku sejenak terheran.

“Motor lagi ga ada Yah?”

“Iya motor lagi dibawa Kakak dinas malam di RS. Akhirnya Ayah nyewa angkot aja, jam 3 malam gini gak ada yang bisa dipinjemin motor”

Lalu aku pun masuk ke dalam angkot tersebut. Rasanya sangat ganjal, sebuah angkot disewa hanya untuk mengangkut 2 orang, aku dan ayahku, dari kota ke desaku. “Ayah ga perlu sampai kayak gini Yah, kan sayang uangnya!! Aku biasa ke mana-mana sendiri kok. Ke luar jawa aja udah sering sendiri! Aku bisa pulang sendiri, Yah!!”, kataku sambil menahan kesal.

Di dalam mobil itu, aku terenyuh, termenung. Dengan keterbatasan keluarga kami, Ayah selalu tak pernah hitung-hitung berapa yang dikeluarkan untuk kebahagiaan anak-anaknya. Dia adalah orang yang paling khawatir di antara orang-orang yang kukenal di dunia ini. Dia selalu memastikan anaknya dalam keadaan aman dan nyaman, walaupun hal itu sering membuat aku risih rasanya seperti masih diperlakukan sebagai anak-anak. Akan tetapi bagaimana pun, begitulah cara Ia mencintaiku.

Dalam perjalanan pulang itu seketika aku teringat peristiwa-peristiwa ketika aku kecil. Aku teringat, dulu begitu susahnya keluarga kami. Saat itu aku tidak mengerti. Aku pernah sering merengek meminta dibelikan mainan agar aku bisa bermain bersama teman-temanku. Lebih sering tidak dikabulkan, bukan karena tidak sayang, melainkan memang kondisi keluarga yang harus memilih prioritas pengeluaran untuk hal yang lebih mendesak. Sebenarnya aku mengerti kondisinya, tetapi ambisiku begitu besar untuk memiliki mainan-mainan itu sering membuatku seperti tidak mau mengerti.

1997

Aku masih ingat sekali, ketika aku masih sangat kecil. Aku pernah beberapa kali berganti cita-cita. Pertama kali aku ingin bercita-cita ingin jadi presiden. Aku masih sangat polos dan tidak tahu apa-apa bercita-cita ingin jadi presiden. Hal itu berkat doktrin Ayah. Ia berpesan, “Nang, kalo sudah besar jadi presiden ya.. biar bisa bermanfaat yang besar buat umat.”

Lalu sampai tiba suatu saat ia mendoktrin aku untuk mengganti cita-citaku menjadi Pilot atau TNI AU, katanya biar bisa menjadi orang yang berani dan memperoleh gaji yang besar. Hehehe.

Lalu, datang lagi masa yang berbeda Ayah memberikan doktrin yang baru. “Nang, jadi guru aja.. insyaa Allah bermanfaat dan berkah hidupmu, Nang”.

Dan terakhir ia berpesan, “Nang, sekolah yang tinggi ya.. sehingga gelarmu lebh panjang daripada namamu”.  

Baru kusadari, telah sekian lama aku telah pernah lupa dengan pesan-pesannya itu. Pada akhirnya aku lebih sering memilih jalanku sendiri.

Cerita kenakalanku

Kelas 1-4 sepertinya aku masih polos, belum muncul motivasi untuk belajar lebih, mungkin karena aku adalah murid paling muda di kelasku. Baru setelah kelas 4 cawu 3, aku mendapat ranking 4, itu seperti menjadi awal harapan keluargaku terutama ayahku. Aku dimotivasi lebih untuk bisa mendapatkan ranking 1 di kelas. Alhasil, mulai sejak kelas 5 aku mendapat ranking 1 sampai akhir lulus SD.

Saat masa-masa itu pula kenakalanku muncul dan puncaknya adalah saat kelas 6. Aku menjadi lebih suka bermain ke luar rumah sampai lupa makan dan minum. Sakit-sakit pun seperti tidak berarti daripada kesenangan yang didapatkan saat bermain bersama teman-teman. Sampai-sampai teman-temanku bilang aku jadi blegedud (istilah bahasa Cirebon, artinya berubah menjadi nakal). Anehnya aku bangga disebut seperti itu, karena merasa sebelumnya sebagai orang pendiam dan pemalu.

“Mau jadi apa kamu, Nang? Main terus.. Belajarnya kapan?”, kata Ayah.

Ayahku menangkap gejala-gejala kenakalanku, lalu ia menjadi sangat protektif terhadapku. Pernah suatu saat aku dikurung di kamar, tidak boleh bermain ke luar, pokoknya harus belajar. Sehari, dua hari hari, aku masih patuh. Hari berikutnya aku sampai keluar dari kamar lewat jendela. Rasa ingin bermainku tidak terbendung.

Prestasiku menurun saat kelas 1 SMP. Aku begitu angkuh tidak mendengarkan ayah, tetapi Ayah tidak pernah menyerah menghadapiku, tidak pernah bosan menasehatiku dengan caranya. Dan saat itu aku mengevaluasi diri. Kelas 2 SMP aku dikenalkan pada dunia organisasi oleh teman-teman bermainku. Satu sisi aku tidak ingin lagi mengecewakan ayah. Aku pilih menjalani dua-duanya, belajar dan berorganisasi.

“Ayah, aku minta izin untuk aktif jadi pengurus organisasi ,Yah. Di sekolah aku tidak ingin hanya belajar akademik saja. Belajar dari organisasi juga sangat penting, Yah, untuk melatih softskill dan leadership ku”.

Awalnya Ayah melarang. Akan tetapi aku lebih keras kepala untuk terus melobi ayah. Akhirnya aku diizinkan aktif berorganisasi. Bukan hal yang mudah membuktikan prestasi akademik di tengah aktivitas organisasi. Aku beruntung telah berhasil membuktikannya. Prestasiku meningkat mulai dari kelas 2 SMP, sampai menjadi perwakilan sekolah dalam lomba-lomba mata pelajaran tingkat kabupaten maupun nasional. Di situ aku menuai hikmah bahwa dengan semakin sibuk, kita menjadi semakin pandai dalam mengatur waktu, karena kita menyadari adanya limit waktu pada diri kita.

Saat SMA pun siklusnya sama seperti ketika SMP. Kelas 1 prestasi menurun. Saat kelas 2 aku semakin aktif berorganisasi dan justru prestasi akademikku meningkat, serta menjadi perwakilan sekolah dalam lomba-lomba mata pelajaran. Sampai akhirnya aku bisa kuliah di kampus terbaik di Indonesia.

**

Episode demi episode telah dilalui bersama Ayah. Menjadi cerita yang tidak bisa diulangi. Kenakalan-kenakalanku yang dulu biarlah menjadi salah satu mozaik dalam anak tangga yang mengantarkanku sampai saat ini. Aku di sini, bukan karena hebatku, atau kenakalanku memilih jalan sendiri. Akan tetapi, ayah lebih dulu telah menanam nilai-nilai pada diriku untuk menjadi seorang pembelajar sejati.

Dari doktrinnya yang dulu ketika aku diminta menjadi presiden, aku memetik nilai luhur untuk menebar kebermanfaatan seluas-luasnya untuk semesta ini. Dari doktrin tentang cita-cita menjadi pilot, aku ambil sarinya bahwa aku harus menjadi seorang pemberani bermental baja. Dan dari pesannya yang agar aku memiliki gelar nama yang panjang itu, aku olah agar aku senantiasa menjadi pembelajar sejati sampai akhir hayatku.

Terima kasih Ayah, aku tidak akan menjadi aku yang sekarang tanpa didikanmu selama ini.

— Selamat Hari Ayah Nasional, 12 November 2015 —

Penulis: Aziz Gagah

Advertisements

3 thoughts on “Begitulah Cara Ia Mencintaiku

  1. Tulisannya keren! Alhamdulillah ya Ayah loe sabar ngadepin loe 😀
    Semoga Allah memberi pahala yang banyak buat beliau.
    Btw, loe orang cirebon? Gue juga.. eh tapi numpang lahir doang ding..
    Heheh

    Makasih ya udah sharing ceritanya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s