Senyum Tabah Ayah

sourch: https://i2.wp.com/www.femalefirst.co.uk/image-library/land/500/d/dad-hugging-teen.jpg

Aku kini hidup jauh dari keluargaku. Di perantauan, aku menuntut ilmu dan mencari pengalaman. Empat tahun sudah aku seperti hidup dengan duniaku sendiri, tanpa kehadiran orang-orang yang sebenarnya selalu dekat tak terbatas jarak. Mereka adalah keluargaku.

Sebelumnya memperkenalkan terlebih dahulu, namaku Hasan berusia 23 tahun anak terakhir dari 4 bersaudara, mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas terbaik di Jakarta. Ke-tiga saudaraku semua tinggal di rumah bersama Ayah dan Ibu di Cirebon. Kakak pertama laki-laki berusia 33 tahun bekerja di RSUD di bagian administrasi klinik Gizi. Kakak kedua perempuan berusia 31 tahun bekerja di RSUD yang sama sebagai perawat, sudah menikah dan punya satu anak. Kakak ketiga laki-laki hanya berjarak 1,5 tahun dengan saya yaitu menjelang 25 tahun, tingkat 6 kuliah di jurusan Pendidikan Matematika di salah satu sekolah tinggi di Cirebon. Di rumahku juga tinggal kakak ipar dan anak perempuannya yang masih balita.

 

Kamis 18 Juni 2015

Pagi hari di sebuah grup whatsapp yang baru beberapa hari dibuat oleh Ang Munir (saudaraku yang tinggal di kecamatan yang cukup jauh dengan keluargaku) ada sebuah percakapan. Ada grasak-grusuk informasi yang sepertinya ada yang dirahasiakan. Saya menangkap poinnya bahwa ada yang sakit parah sampai di bawa ke RSUD. Aku bertanya, “Siapa yang sakit?”, tidak ada satu pun yang menjawab di grup tersebut. Lalu beberapa hari kemudian ada saudaraku yang keceplosan bilang dengan menanyakan kabar seorang yang sakit itu. Akhirnya aku menyadari bahwa kakakku lah yang sakit. Aku sengaja tidak memberikan respon apapun di grup tersebut. Aku bisa mengerti bahwa sejak kemarin informasi itu sengaja ditutup-tutupi oleh keluargaku, terutama ayahku yang memang terlalu kuatiran. Ayahku pasti kuatir aku menjadi cemas di perantauan.

Akhirnya aku sms ayahku, “Assalaamu’alaykum, Yah, gimana kabarnya sekeluarga? Aku mendengar kabar kalo Ang Husein lagi dirawat di RS ya? Sakit apa yah?”

“Wa’alaykumussalaam wr wb. Siapa yang ngasih tahu San? Iya Ang Husein dirawat di RSUD sejak kemarin, kalo kata dokter meriang masuk angin aja. Kemarin diajak motoran sama Ang Munir”, balasan sms Ayah.

Aku kurang yakin jawaban ayah, agaknya itu seperti menenangkanku saja. Kalau berdasarkan pengamatan percakapan di grup sepertinya bukan sakit yang biasa. Lalu aku coba sms kakak pertamaku, Ang Amad, aku biasa memanggilnya Aang saja (Ang: panggilan untuk kakak/mas dalam bahasa Cirebon).

“Assalaamu’alaykum, Aang. Ang Husein sakit apa?”

“Wa’alaykumussalaam wr wb.. Hasan.. Ang Husein lagi dirawat di RSUD, kemarin kejang-kejang.”

Ternyata jawaban Aang berbeda dengan jawaban Ayah. Aku langsung rencanakan untuk pulang ke Cirebon besoknya.

 

Jumat 19 Juni 2015,

04.00 WIB

Alarm ponselku berdering. Aku terbangun dari tidurku, beberapa saat terlebih dulu aku kumpulkan nyawa yang masih berserakan. Lalu tetiba ponselku berdering lagi, kali ini berasal dari sebuah panggilan telepon. Aku baca kontaknya bertuliskan nama kakak Iparku. Tidak biasa kakak iparku menelponku apalagi saat 2/3 malam seperti itu, tidak berlama-lama merenung aku langsung angkat teleponnya.

“Assalaamu’alaykum, San..”

“Wa’alaykumussalaam wr wb Ang Yosep.. Ada apa Ang?”

“Hasan bisa pulang ga hari ini?”

“Ada apa Ang?”

Hening sejenak, aku tahu kakak Iparku sedang berhati-hati mencari kata-kata yang paling tepat untuk diungkapkan.

“Hasan pulang ya.. Jenguk Ang Husein”, suaranya lirih tenang.

“Oke Ang, insyaa Allah bisa Ang. Emang rencana pulang hari ini kok”

“Oh yaudah. naik apa yang paling cepet?”

“Insyaa Allah Hasan usahakan naik kereta dari stasiun senen paling pagi jam 6 s.d. 6.30-an, insyaa Allah ada. Kalo gak dapet, insyaa Allah usahain naik bus”

“Oke San kabari ya. Hati-hati di jalan”

“Insyaa Allah Ang”

“Wassalaamu’alaykum”

“Wa’alaykumussalaam wr wb”

Aku langsung bergegas mengemas pakaian secukupnya ke dalam tas dan meminta tolong teman kosanku untuk mengantarku ke stasiun terdekat dari kosanku untuk menuju ke stasiun senen. Setelah shalat tahajjud kami langsung meluncur. Aku memilih untuk shalat subuh di stasiun senen, pasti sempat karena aku tahu caranya yang tercepat menuju stasiun senen, cara yang biasa aku lakukan untuk mendapatkan kereta paling pagi.

 

06.30 WIB

Tiba di stasiun senen, Alhamdulillah aku mendapatkan tiket kereta api on the spot. Aku cukup tahu persis perjalanan paling pagi itu jarang menjadi pilihan orang-orang dalam melakukan perjalanan kereta api. Perjalanan kereta api Jakarta-Cirebon hanya ditempuh dalam waktu 3 jam 10 menit, sehingga aku bisa pastikan sampai di stasiun Cirebon pukul 09.40 WIB.

Sejak dari telepon pagi tadi, aku sudah bisa mengira bahwa ada kabar besar tentang keluargaku. Aku sudah bisa menduga kakakku sudah dipanggil oleh Allah. Karena tidak biasa keluargaku memintaku untuk pulang saat itu juga. Apalagi yang menelepon adalah kakak iparku, bukan ayah atau kakak kandungku, pastilah mereka tidak mampu berkata-kata kepadaku. Lalu dalam perjalanan di kereta aku mencoba menyimak grup whatsapp, dan semakin mengerucut kuatlah dugaanku. Ada percakapan-percakapan no mention yang aku dapat pahami apa yang mereka bicarakan tentang ajakan-ajakan bertakziyat dan sebagainya di dalam grup tersebut. Aku benar-benar telah yakin dengan apa yang telah terjadi sebenarnya.

Tidak ada yang banyak aku lakukan sepanjang perjalanan itu selain membacakan doa-doa dan secara otomatis tersibak lagi kenangan-kenangan antara aku bersama kakakku. Aku dan dia hanya selisih 1,5 tahun. Kami seperti sahabat, ketika kecil selalu bersama. Bahkan orang-orang mengira kami adalah saudara kembar, terlebih karena nama kami mirip. Selama perjalanan itu aku risau, apakah ia wafat dalam keadaan baik atau tidak. Aku hanya bisa mendoakan sebanyak-banyaknya di sepanjang perjalanan.

 

09.40 WIB

Tiba di Stasiun Prujakan Cirebon, di ruang tunggu sudah ada Kakak Iparku yang sudah menunggu. Aku langsung diajak ke parkiran motor stasiun. Tetiba gerimis datang, kakak iparku tidak membawa jas hujan, tetapi kami sepakat untuk terobos saja gerimisnya. Kami pun menuju rumah. Di tengah perjalanan tetiba gerimis berubah menjadi hujan, lalu kami masih bersepakat untuk terus melaju melawan hujan.

Sesampainya di rumah, aku masuk melalui pintu belakang karena tubuh basah kuyup. Sudah ada saudara-saudara dari keluarga besarku menyambutku. Tidak langsung dibawa ke ruang tengah, aku disuruh oleh Aang untuk mandi dan ganti pakaian dulu. Aku menuruti arahan beliau, mandi dan ganti pakaian.

Setelah bersih, aku mencoba masuk ke ruang tengah.

“San, kamu sudah tahu ya?” Tanya Aang.

“Iya sudah tahu, Ang”, jawabku tenang dengan senyum kecil. Aku tidak ingin menunjukkan kesedihanku.

“Gak usah sedih ya.. Aang juga gak sedih kok nih”, Aang mencoba menenangkanku yang sebenarnya sedari tadi aku masih tetap tenang.

Lalu aku masuk ke ruang tengah dan di sana sudah terbaring sebuah keranda bertutup kain hijau. Aku mendekat dan duduk di sebelahnya. Perlahan ku buka kainnya. Terlihat jelas pancaran cahaya wajahnya. Matanya sudah tertutup, bibirnya senyum tipis dengan mulut sedikit terbuka. Aku sering melihat rona wajah itu ketika ia tidur normal ketika hidup. Aku melihat ia seperti tidak sedang tidur selamanya, ia seperti tidur biasa. Ku cium lembut kening jenazahnya. Saat itulah aku melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Kerisauan selama perjalanan tadi seketika sirna menjadi ketenangan karena melihat wajahnya berseri dalam kedamaian.

Tetiba Ayah dan Ibu datang. Aku menyalami dan menciumi kedua tangan mereka. Mereka terlihat tenang, membuatku menjadi lega karena melihat mereka tidak terlihat sedih. Saudara-saudaraku yang lain berdatangan, Ibu menyambut mereka. Aku tidak mengerti mengapa setiap tamu yang datang selalu menunjukkan ekspresi sedih sampai-sampai menangis, akhirnya hanya menyebabkan Ibuku ikut menangis. Pemandangan yang agak membuat kesal tetapi sedikit menggelitik heran. Mungkin saja mereka hanya belum mengerti bahwa tangisan hanya membuat beban sang jenazah. Yang ia butuhkan hanyalah doa-doa. Tabah dan sabar lebih membuktikan cinta daripada sebuah tangisan.

“Gimana kronologinya Yah?”, tanyaku memecah kebisuan di antara kami.

“Rabu kemarin Husein dibawa ke RSUD. Dia kejang-kejang setelah sebelumnya diajak jalan-jalan mengunjungi pondok pesantren di Buntet. Kata dokter Husein terkena penyakit radang otak, penyakit kronis yang gejalanya emang bias. (Ayah menjelaskan panjang lebar kronologinya)”

“Qadarullah. Begitu cepat Husein dipanggil sama Allah.”

“Iya Yah. Qadarullah.”

“Akan tetapi, kepergian Husein ini, Ayah sangat tenang. Insyaa Allah Ayah ridha. Karena meninggalnya dalam keadaan baik. Selama hidup pun sikapnya sangat baik, rajin beribadah dan menghafal Quran”, katanya penuh kelembutan. Aku melihat mimik wajahnya begitu tentram.

 

13.00 WIB

Usai shalat Jumat dan makan siang kami bersiap untuk shalat jenazah dan setelah itu jenazah langsung dibawa ke pemakaman untuk dikebumikan. Saat di pemakaman, aku tidak melihat Ayah. Ia tidak menghadiri pemakaman anaknya. Aku cukup mengerti, tentu begitu berat kehilangan seorang anak yang begitu disayanginya. Di hadapanku Ia terlihat tegar, tetapi di dalam hatinya siapa yang tahu.

Setidaknya Ayah mengajarkanku tentang makna keteguhan dan keikhlasan. Segala sesuatu di dunia ini hanya titipan, suatu saat akan diminta kembali oleh Sang Maha Pencipta. Terima kasih Ayah, senyum tabahmu menjadi kekuatan tersendiri bagiku dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Menjadi panutan yang akan selalu menuntunku memegang teguh prinsip-prinsip hidupmu yang luhur. Semoga keluarga kita dapat berkumpul kembali di surga-Nya nanti. Aamiin.

 

— Selamat Hari Ayah Nasional, 12 November 2015 —

Penulis: Aziz Gagah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s