Ayat Produktivitas

Ayat Produktivitas

–sebuah tadabbur ayat–

Surat Al-insyirah merupakan ayat tasliyah (penghibur). Di dalam surat Al-Insyirah terdapat dua ayat serupa yang diulang berturut-turut dan cukup populer yaitu ayat ke-5 dan ke-6 yang berbunyi “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5), sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6)”

Pada kali ini saya ingin mengajak teman-teman pembaca untuk menengok makna dari ayat lain selain ayat di atas yang juga masih dalam surat Al-Insyirah. Ayat yang dimaksud tidak lain adalah kelanjutannya, yaitu ayat ke-7, sebuah pesan besar dalam Quran tentang produktivitas. Bunyinya: “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.

Sebelumnya bertahun-tahun ini saya (mungkin begitu juga dengan pembaca) memahami ayat ini seperti ini:  “maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah urusan yang lain”. Sehingga pesannya adalah selesaikan yang satu baru kerjakan yang lain. Saya baru menyadari ada yang terlewat dari ayat ini yang justru menjadi kata kuncinya yaitu kata “TETAPLAH bekerja keras”.

Ayat tersebut adalah ayat tentang produktivitas. Mengajarkan pada kita tentang manajemen waktu dan prioritas aktivitas. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa hanya mengerjakan satu urusan sampai selesai baru mengerjakan yang lain. Terlalu sayang kapasitas kemampuan kita jika kita seperti itu.

Orang yang produktif berbeda dengan orang yang sibuk. Orang yang sibuk dia membuat list-list target/urusan yang banyak. Sedangkan orang yang produktif menyusun prioritas-prioritas, sehingga memudahkan dalam pengerjaan urusan-urusannya. Produktif adalah bagaimana kita mengambil metode-metode efektif dalam pemecahan urusan-urusan kita dalam sehari-hari.

Seorang yang produktif adalah orang yang mengerjakan beberapa pekerjaan secara simultan. Satu pekerjaan baru bukan dimulai setelah menunggu pekerjaan yang saat itu dikerjakan selesai terlebih dulu, tetapi start nya sudah dimulai di tengah-tengah pekerjaan yang saat itu dikerjakan. Artinya, seorang yang produktif tidak dibiarkan ada ruang kosong. Tidak ada jeda untuk berpikir “setelah ini mengerjakan apa ya?”. Hidupnya senantiasa bergerak dan bergerak, beramal dan beramal.

Lalu kapan saat istirahatnya?? “Di SURGA!!” hehehe.. Ini jawaban orang-orang yang sangat militan dalam kebaikan. Masyaa Allah.. Itu tidak salah, tetapi idealnya tubuh kita tetap mempunyai hak untuk istirahat. Oleh karena itulah Allah menciptakan malam. Dan jika memang  sangat butuh istirahat di luar waktu malam, ada satu tips dari guru saya, Ust. Hasan Zuhri, yang bisa dicoba untuk kita terapkan bahkan dijadikan sebagai habit. Beliau berpesan seperti ini: “Istirahatlah dengan cara beralih mengerjakan aktivitas bermanfaat yang lainnya, misalnya ketika kita lelah bekerja cobalah tilawah, ketika lelah bertilawah cobalah membaca buku, ketika lelah membaca buku cobalah berdiskusi produktif, dan sebagainya. Sehingga istirahat kita tetap menjadi produktif untuk kita”. Silakan dicoba, menurut saya ini cukup efektif untuk mengusir lelah atau bosan di saat kita sedang seharusnya produktif.

Terakhir, saya ingin menganalogikan isi tadabbur ayat ini dengan dua buah Production House (PH). PH pertama adalah PH baru yang dengan banyak kekurangan akhirnya masih memproduksi satu film selesai dalam waktu yang lama baru setelah itu memproduksi film baru yang lain, dan seterusnya, sehingga PH tersebut tidak/belum begitu produktif. PH kedua adalah PH-PH besar yang sudah lama berkecimpung di dunia perfilman. Mereka sangat produktif dikarenakan film-film yang mereka garap dikerjakan secara simultan dan beriringan. Sutradara dan produsernya pun begitu, mengerjakan beberapa film secara simultan dan beriringan. Sehingga mereka adalah sutradara dan produser yang produktif dalam menghasilkan karya-karyanya.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)” (QS. Al-Insyirah: 7)

Mari kita tuai hikmah dari ayat ini yang mengajarkan kita arti keistiqamahan dalam produktivitas untuk menyelesaikan urusan-urusan kita sampai tuntas. Finish what we start! Ini adalah pribadi muslim sejati, muslim yang produktif, pribadi yang memiliki kemuliaan dan wibawa di hadapan umat yang lainnya. Semoga kita senantiasa dijaga oleh Allah dalam produktivitas.

Salam produktif!

Wallahu a’lam bish-shawaab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s