Niat = Perencanaan

“Niat = Perencanaan”

“Inna a’maalu binniyaah”, sebuah hadits urutan pertama dalam hadit arba’in.. Kenapa menjadi yang pertama? Karena pesannya sangat penting bagi kita untuk menjalani kehidupan.

Kalau dalam konteks akhirat; kalau kita niatkan suatu pekerjaan untuk ibadah kepada Allah, maka pekerjaan tersebut bernilai ibadah. Bahkan sampai tidur pun bisa bernilai ibadah, jika sebelum tidur kita wudhu dulu, berdoa dulu, dsb, maka tidur kita bernilai ibadah.

Dalam konteks kehidupan dunia; pekerjaan/bisnis/usaha apapun yang sedang kita upayakan, inna a’maalu binniyah bisa kita serap maknanya sebagai berikut; “Segala usaha bergantung pada perencanaannya”.

Dalam ilmu manajemen disebutkan “Gagal merencanakan, sama saja merencanakan untuk gagal”. Maka niat yang dimaksud bukan sekadar ” ingin” saja. Tetapi lebih dari itu, niat yang efektif dan impactfull adalah niat yang bertransformasi menjadi “azzam” atau keinginan yang begitu kuat. Dan wujud dari keinginan yang kuat tersebut adalah perencanaan. Karena kembali lagi: “Gagal merencanakan, sama saja merencanakan untuk gagal”. Sehingga ketika kita berniat mencapai sesuatu, ingatlah selalu bahwa perencanaan adalah bagian paling pertama dan utama dalam sebuah pencapaian usaha kita.

 

Salam Sukses,

– Aziz Gagah

Advertisements

Jika Saya Tiada Nanti :’)

Bersyukur sekali Indonesia punya sosok seperti Bunda. Beruntung sekali saya mengenal Bunda, berinspirasi banyak dari Bunda, belajar banyak dan mengambil hikmah yang banyak dari Bunda. Tentang makna keikhlasan, ketulusan, keoptimisan, dan kecintaan terhadap Indonesia yang dibuktikan dengan dedikasi-dedikasi nyata terutama untuk generasi-generasi mudanya. Sungguh mengenal Bunda adalah anugerah. Semoga kami dapat optimal menuai hikmah-hikmah dari perjalanan hidup Bunda yang sangat panjang.

Senantiasalah menginspirasi Bunda di angka usia baru ini dan angka-angka seterusnya. Sejak dulu pun Bunda dan keluarga adalah inspirasi saya. Doakan saya dan anak-anak Bunda (biologis dan ideologis tentunya) agar dapat membangun keluarga yang “besar” yang turut membangun generasi Indonesia yang “besar”.

“Ya Allah, kuatkan jiwa-jiwa kami, tangan-tangan kami, kaki-kaki kami.. Ridhoi Kami.. Kuatkan kami untuk bisa membangun keluarga-keluarga yang teguh akidah, ubudiyah, dan akhlaknya.. Kokohkan karakter kami, keluarga-keluarga kami, kelompok-kelompok kolaborasi kami, masyarakat kami, bangsa kami..”

“Hadirkan pemimpin-pemimpin bangsa yang besar jiwanya, teguh akhlak dan pendiriannya, tajam pandangannya, luas wawasan dan kearifannya. Semoga senantiasa sinergi antara masyarakat Indonesia dan pemimpinnya membangkitkan Indonesia, menata karakter pribadi manusia-manusianya, dan membangun martabat bangsa di kancah dunia. Ya Allah, kami ingin Indonesia Jaya. aamiin..”

Terima kasih, Bunda, untuk semuanya.. ūüôā

Tatty Elmir

Aselinya saya ini dulu adalah seorang ‚ÄúFakir usia‚ÄĚ yang senantiasaaaa minta umur panjaaaaaang sama Allah. Setiap ulang tahun, selalu girang alang kepalang saban ada yang mendoakan semoga umur ini panjang, sambil berucap ‚ÄúAamiiiiin‚ÄĚ, sekencang-kencangnya (di dalam hati). Tapi ¬†gara-gara pernah sakit punggung hingga ke bawah yang luaaaar biasa sakitnya beberapa tahun lalu, dan tak terhitung kali melihat orang yang tergeletak tak berdaya dan begitu menderita ¬†dalam sakitnya yang begitu lama dan lemah, maka doa itu saya ganti. Apalah artinya panjang umur kalau sakit-sakitan. Apalah artinya panjang umur kalau tidak produktif ¬†dan menjadi beban orang lain. Ah lebih baik saya ganti haluan. Hanya ingin sepanjang usia saya terus sehat dan ¬†produktif berlimpah barokah, dan mengakhirinya dengan khusnul khotimah alias happy ending. Daaaaan eee alangkah baiknya jika usia produktif itu terhitung juga dalam buanyaaaaak tahun (Hehehe doa yang curang. Itu mah berarti juga panjang umur, dan sehat berlimpah karya kan ya?)‚Ķ

View original post 1,276 more words